Pain vs Suffering: Mengapa Pengusaha Sukses Tidak Menderita
Ada sebuah kutipan yang sering diulang oleh para biksu Buddha dan diadopsi oleh Tony Robbins dalam pengajaran psikologi modernnya: "Pain is inevitable, Suffering is optional" (Rasa sakit itu tak terelakkan, Penderitaan itu pilihan).
Banyak dari kita, terutama yang sedang merintis karir atau bisnis, gagal membedakan kedua hal ini. Kita menganggap bahwa ketika kita gagal, kita harus menderita. Padahal, keduanya adalah mekanisme yang sangat berbeda. Mari kita bedah perbedaannya dalam konteks membangun Habit Kaya.
Rasa Sakit (Pain) adalah sinyal fisik atau fakta kejadian. Dalam bisnis, rasa sakit itu nyata. Kehilangan tender proyek besar itu sakit. Melihat grafik penjualan menurun itu sakit. Dikhianati partner bisnis itu sakit. Ini adalah sinyal dari realitas yang memberi tahu kita bahwa ada sesuatu yang "salah" atau perlu diperbaiki. Sama seperti tangan Anda yang sakit saat menyentuh api, rasa sakit bisnis memberi tahu Anda untuk mengubah strategi.
Penderitaan (Suffering), di sisi lain, adalah cerita yang kita buat. Penderitaan terjadi ketika kita menolak fakta tersebut dan mulai memutar narasi korban di kepala kita. "Kenapa ini terjadi padaku? Aku memang tidak berbakat bisnis. Tuhan tidak adil. Kompetitor pasti main curang." Narasi inilah yang mengubah rasa sakit sesaat menjadi penderitaan yang berlarut-larut. Penderitaan adalah ketika Anda membawa kegagalan bulan lalu ke dalam rapat pagi ini.
Para high-performer dan miliarder dunia tidak kebal terhadap rasa sakit. Mereka mungkin mengalami kegagalan lebih sering daripada orang rata-rata. Namun, yang membedakan mereka adalah mereka tidak mengubah rasa sakit itu menjadi penderitaan. Mereka memiliki "waktu refrakter" yang sangat pendek. Ketika masalah datang, mereka menerimanya sebagai data, bukan sebagai serangan pribadi.
Bayangkan jika Elon Musk atau Jack Ma berhenti dan menangis berbulan-bulan setiap kali mereka ditolak investor. Mereka tidak akan ada di posisi mereka sekarang. Mereka merasakan sakitnya penolakan, tapi mereka menolak untuk menderita karenanya. Mereka menggunakan energi yang biasanya habis untuk mengeluh, dialihkan untuk mencari solusi.
Mengakhiri penderitaan bukan berarti Anda menjadi robot tanpa perasaan. Itu berarti Anda menerima kenyataan sepenuhnya—seburuk apapun itu—sehingga Anda bisa mulai mengubahnya. Selama Anda sibuk menyangkal kenyataan atau mengasihani diri sendiri, Anda tidak bisa mengubah apa pun.
Tantangan untuk Anda Hari Ini:
Audit "Penderitaan" Bisnis Anda.
- Pikirkan satu masalah bisnis atau karir yang paling membebani pikiran Anda saat ini.
- Ambil kertas, buat dua kolom.
- Kolom Kiri (FAKTA): Tuliskan apa yang sebenarnya terjadi tanpa bumbu emosi. (Contoh: "Omzet turun 20% bulan ini").
- Kolom Kanan (CERITA): Tuliskan apa yang Anda katakan pada diri sendiri tentang fakta itu. (Contoh: "Bisnis ini bakal bangkrut, aku gagal jadi pemimpin").
- Aksi: Coret Kolom Kanan. Fokuskan energi Anda hanya pada Kolom Kiri. Buat 3 langkah taktis untuk merespons fakta tersebut hari ini juga.
Komentar
Posting Komentar